Pengalaman Mencoba LRT Jakarta

Per tanggal 11 Juni kemarin, LRT Jakarta dibuka untuk ujicoba publik, banyak masyarakat penasaran dengan moda transportasi yang terbilang cukup baru itu, tak terkecuali saya ๐Ÿ˜€

Karena banyaknya pekerjaan, saya baru bisa menjajal LRT Jakarta hari ini, dan berikut pengalaman saya mencoba LRT Jakarta.

Cara Registrasi Uji Publik LRT Jakarta

Registrasi Uji Publik LRT Jakarta terbilang cukup mudah, cukup buka alamat https://lrtjakarta.co.id/uji_publik_product_main.html lalu isi form yang diberikan, lalu tiket elektronik akan dikirim melalui e-mail anda. Tiket tersebut bisa anda cetak atau tunjukkan melalui smartphone anda saat di stasiun LRT.

Saya datang ke stasiun LRT Velodrome, untuk bisa kesini anda bisa pakai Transjakarta dan keluar di halte Velodrome atau Pemuda Rawamangun. Ya, stasiun LRT ini terletak di sebelah Jakarta International Velodrome.

Sepertinya stasiun ini masih dalam penyempurnaan, karena bisa dilihat pada foto di bawah, sign stasiun masih belum ada, bahkan ada tiang di trotoar yang sudah rusak(?)

Setelah masuk, petugas menanyakan tiket elektronik, cukup tunjukkan tiket yang sudah ada QR-Code nya, dan petugas tersebut memberikan saya sebuah kartu single trip.

Oia, di stasiun LRT ini juga terdapat mesin tiket otomatis yang menurut saya bentuknya kurang bagus (ga tega kalau bilang jelek, haha..).

Gate-Masuk
Gate Masuk LRT Jakarta – terdapat gate yang lebih lebar untuk akses pengguna disabilitas.

Saya harap kedepannya, terutama saat sudah diresmikan LRT Jakarta ini bisa menggunakan kartu uang elektronik seperti e-money, Flazz, TapCash dan lain-lain.

Oia, tidak seperti stasiun MRT, paid area dan unpaid area berada dalam satu lantai, seperti terlihat di gambar, kereta LRT berada tidak jauh dari gate pembayaran. Sedangkan toilet, mushola dan tempat untuk pindah peron ada di lantai berikutnya.

Kereta LRT ini berasal dari Korea Selatan – dengan jenis Hyundai Roterm. Kereta ini berjenis standard gauge dengan lebar gandar 1435 mm, mendapatkan pasokan listrik dari third rail,ย jadi tidak seperti MRT dan Commuter Line tidak ada kabel listrik yang melintang di atas kereta tersebut, ini seperti Metro Moscow yang dulu sering saya naiki ๐Ÿ™‚ .

Tidak seperti MRT, satu rangkaian kereta LRT hanya terdiri dari dua gerbong. Setiap gerbong keretaย  dilengkapi empat pintu geser otomatis. Terdapat 20 kursi yang tersedia di setiap kereta. Artinya, satu rangkaian kereta berisi 40 kursi. Kereta ini di-klaim bisa mengangkut sekitar 278 penumpang sekali jalan.

Interior kereta sendiri menurut saya sedikit lebih sempit daripada MRT Jakarta, Moscow Metro dan Istanbul Metro. Jelas saja ini kategorinya LRT (Light Rapid Transit). Karena saya kesini saat hari kerja, jadi banyak ibu-ibu yang ber-swafoto ria. Terdapat satu petugas yang mondar mandir memastikan keamanan dan keselamatan dan juga menegur penumpang jika mereka melakukan hal-hal yang dilarang selama di dalam rangkaian kereta.

Diatas pintu terdapat satu layar yang memberitahu posisi stasiun kita, jumlah stasiun, stasiun berikutnya dan informasi lainnya, layar ini ukurannya lebih besar dari layar yang ada di kereta MRT. Ya, ini cocok untuk disematkan iklan. Untuk saat ini terdapat enam stasiun LRT.

Menariknya, transportasi modern di Jakarta sudah sangat ramah untuk penyandang disabilitas, tidak terkecuali di kereta LRT ini, terdapat satu tempat untuk pengguna kursi roda dengan bantalan yang cukup empuk.

Uniknya, kita dengan mudah dapat berpindah antar gerbong, karena tidak ada pintu, bahkan tidak ada penyekat apapun. Kita juga bisa berdiri diantara gerbong, ini mengingatkan saya pada bus gandeng TransJakarta.

Saya berangkat dari stasiun LRT Velodrome, keluar hingga stasiun Boulevard Utara, lalu berpindah peron untuk dapat kembali lagi ke stasiun Velodrome. Seperti yang sudah saya bahas sebelumnya, di lantai berikutnya terdapat mushola dan toilet.

Uniknya, di papan informasi ini dijelaskan bahwa kereta menuju Velodrome akan datang 5 menit lagi. Sedangkan papan informasi di MRT tidak dijelaskan dalam sekian menit lagi, tapi akan datang pada pukul sekian – ya, dalam format jam, bukan time remaining. Kenapa tidak disamakan ya? ๐Ÿ˜‰

Setelah saya mencoba LRT Jakarta ini. Kesimpulan saya, masih banyak yang perlu dibenahi, seperti perlunya edukasi kepada masyarakat tentang bagaimana mengantri di pintu masuk kereta. Tapi sisanya peran petugas terutama saat di dalam kereta sudah cukup memuaskan, para petugas sudah sangat tegas tapi sopan menegur beberapa penumpang yang tidak menaati aturan.

Semoga dengan adanya LRT Jakarta ini kita bisa sama-sama mengurangi kemacetan di kota Jakarta.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.